Dewasa ini kita menyaksikan berbagai peristiwa yang mengiris jiwa kemanusiaan kita, entah peristiwa di dalam maupun luar negeri. Perpecahan bahkan peperangan membela sebuah terma ideologi dan identitas yang belum menemukan ujung pangkalnya. Setiap individu bangsa bersitegang satu sama lain mendaku sebagai penggagas solusi yang paling tepat dalam memecahkan pelbagai kebuntuan problematika kehidupan, entah politik, ekonomi, pendidikan bahkan agama dan budaya. Pendakuan secara subyektif ini tanpa proses dialog dan tidak saling memahami ini, khususnya di Indonesia, menciptakan suasana yang tidak harmonis antar sesama anak bangsa dalam menemukan solusi yang mengakomodir pendapat setiap penggagasnya. Satu pihak menganggap norma dan standar “Kaum Barat” selalu digambarkan sebagai yang paling mengayomi, pun pihak lain mengatakan bahwa hanya contoh dari peradaban “Kaum Timur” yang bisa menjadi model sistem perubahan yang ideal dan menyejahterakan. Pada akhirnya, keriuhan subjektifitas ini malah menjadikan kita lupa akan identitas kita sebagai bangsa yang memiliki cara dan sudut pandang kenusantaraannya dalam meramu solusi terbaik untuk kemajuan bangsa dan negaranya. Pilar identitas kebangsaan ini kiranya sudah lama terlupa atau bahkan dilupakan oleh generasi yang terlanjur terpana dengan anggunnya peradaban bangsa lain, padahal pemahaman terhadap identitas sendiri pun belum benar-benar utuh mengakar dalam diri kita.
Pelunturan identitas bangsa itu tentu membawa persoalan tersendiri yang kian hari kian besar. Belum lagi konteks globalisasi dunia makin mengarah kepada medan perebutan pengaruh dan kekuasaan di pelbagai lahan potensialnya. Tanda-tanda kehilangan jati diri bangsa mulai terlihat dan makin kentara di lima bidang di atas: budaya, pendidikan, agama, ekonomi dan politik. Padahal kelimanya merupakan inti sari kemajuan suatu bangsa dewasa ini.
Berangkat dari keprihatinan identitas di atas, persatuan para pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri menetapkan hati untuk bergerak merajut wacana dan gagasan dalam meniti sebuah solusi untuk bangsa ini dengan menyelenggarakan suatu even bersama Simpsoium PPI Dunia.
Berdasarkan hasil pertemuan PPI Dunia 2015 di Singapura lalu, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir diberi kehormatan menjadi tuan rumah Simposium PPI Dunia tahun 2016 mendatang setelah sebelumnya berturut-turut pada setiap tahunnya digelar di Den Haag-Belanda, London-Inggris, Kuala Lumpur-Malaysia, Mumbai-India, Bangkok-Thailand, Tokyo-Jepang, dan Singapura. Hal itu bukan hanya sebuah kehormatan besar yang perlu disyukuri, namun sebuah momen yang diharapkan melahirkan gagasan-gagasan baru untuk Indonesia dari bumi para nabi ini. Melihat krusialnya even tahunan ini. Dalam momen internasional ini akan digelar berbagai seminar kebangsaan yang dikhususkan pada lima aspek besar yang telah kami sebutkan di atas. Dalam momen ini pun akan kami harapkan dapat menjadi ajang dialektika wawasan dan gagasan yang kelak bila direkomendasikan untuk kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. Bersama para ahli di bidangnya, Simposium Internasional ini juga diharapkan menambah “daya gedor” perubahan yang terus harus selalu diupayakan bagi seluruh pelajar dan mahasiswa Indonesia di dalam dan luar negeri khususnya.
Mahasiswa merupakan agen perubahan. Di manapun dan kapapanpun itu. Itulah masa paling produktif untuk bergerak dan berpikir. Menyemai asa dan merajut cita. Menggambar masa depan sendiri oleh bangsa sendiri. Dan masa-masa setelahnya tak lain hanya cerminan dari masa mahasiswa yang produktif itu. Maka harus kita rawat masa itu, bersama guru dan realitas sosial yang mengitarinya.
Para pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang terpayungi dengan organisasi PPI Dunia hingga kini terus bergerak menyusun strategi dalam pelbagai bidang garapannya. Tentulah hal ini kami niatkan demi Indonesia tercinta. Even simposium tahunan lintas negara ini hanya satu dari agenda konkret lain yag akan terus diupayakan oleh PPI Dunia. Bak puncak gunung es di tengah samudera, ia terlihat tenang di luar, namun terobosan-terbosan dan ide-ide segarnya berdialektika secara dinamis di dalamnya.